23 Desember 2013

Demam Batu Giok Resahkan Ulama


FENOMENA perburuan batu mulia dan demam giok yang kini melanda Aceh, ternyata tidak luput dari perhatian ulama. Sebagian ulama melihat fenomena ini sebagai hal yang biasa saja, namun sebagian lainnya justru mulai resah dan merasa khawatir. Pasalnya, ada yang meyakini bahwa batu-batu mulia tersebut mengandung berbagai ‘khasiat’, yang justru dikhawatirkan bisa merusak akidah.   Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Drs Tgk H Ghazali Mohd Syam, misalnya, mengkhawatirkan kegandrungan masyarakat muslim di Aceh dengan batu giok dan sejenisnya dapat mengarah kepada syirik. Apabila sudah dianggap batu tersebut memberi manfaat dan mudharat.
“Karena ada isu-isu dari beberapa yang mengatakan bahwa khasiat batu giok, dan sejenisnya itu dapat meringankan azab kubur, ringan di padang mahsyar, dan akan memperoleh kekayaan,” ujarnya menjawab Serambi, Kamis (29/1).
Sebab itu, kata Tgk Ghazali dalam hal ini MPU meminta agar masyarakat muslim di Aceh tidak terpengaruh dengan hal-hal tersebut sebab dapat mengarah ke perbuatan syirik. Namun, apabila digunakan sebagai hiasan dan jual beli maka tidak apa-apa.
Pembahasan tentang batu cincin juga sudah pernah dibahas dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/1) malam. Tema yang diangkat tentang “Dosa-dosa Besar dalam Islam” yang kemudian dibukukan dengan judul “Tinta Emas Wartawan Syariah,” bersama tema-tema lainnya. Buku tersebut ditulis oleh Wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur dan Arif Ramdan, serta Wartawan Analisa, Muhammad Saman.
 Memakai cincin
Seperti yang tertulis dalam buku itu, pada tahun tersebut memakai cincin dengan hiasan batu dari beragam jenis juga sedang menjadi trendi sejumlah kalangan. Tidak jarang, banyak dari pecinta batu cincin itu memakai cincin di ke sepuluh jarinya. Bahkan tak jarang pula banyak yang percaya ada kekuatan (azimat) di dalam batu-batu cincin di jarinya.
Menanggapi hal tersebut, alumnus Al Azhar Mesir, H Zul Anshary Lc yang mengisi pengajian tersebut mengatakan bahwa memakai cincin berhias batu yang sedang trend di Aceh akhir-akhir ini tidak bisa serta-merta dianggap sebagai perbuatan yang menjurus syirik. Banyak dari pecinta batu cincin itu memakainya hanya untuk hiasan.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/30/demam-batu-giok-resahkan-ulama
              : http://menatapaceh.com/images/2014/12/14/3220-pesona-giok-aceh/

Cincin Yellow Saphire Terjual Rp 585 Juta

* Dibeli Pemilik Tambang Emas di Padang
Cincin Yellow Saphire senilai Rp 675 juta di salah satu stan Atjeh Batee Festival milik Akmal terjual kepada seorang pemilik tambang emas serta pengusaha asal Padang, Sumatera Barat. Koleksi Pribadi
Festival Batu Aceh (Atjeh Batee Festival) resmi dibuka sejak Selasa (3/2) di Hotel Hermes Palace Banda Aceh. Masyarakat terlihat antusias, terlihat dari tingginya tingkat kunjungan ke lokasi festival.
Transaksi pun langsung terjadi. Bahkan salah satu peserta pameran berhasil menjual sebuah cincin dengan harga yang fantastis, senilai Rp 585 juta. Penjualan ini tercatat sebagai yang tertinggi pada hari pertama pelaksanaan festival batu kemarin.
Adalah Akmal salah satu peserta pameran yang berhasil menjual cincin tersebut. Cincin yang dia jual merupakan cincin batu Yellow Saphire asal Tanzania yang diikat dengan berlian 136 pcs, mas putih 25 gram dan 10,77 karat. Akmal membanderol cincinnya seharga Rp 675 juta.
Cukup mahal memang, tapi itu tidak menyurutkan niat pecinta batu untuk membelinya, salah satunya pengusaha pemilik tambang emas dan hotel di Padang Sumatera Barat, Dato Afis. Setelah tawar menawar Akmal akhirnya melepas cincin tersebut kepada Dato Alfis seharga Rp 585 juta.
“Cincin ini merupakan koleksi pribadi saya dari tahun 2004, bersertifikat Singapura. Sebelumnya pernah ditawar sama orang dari Aceh, minta ditukarkan dengan mobil Pajero keluaran tahun 2012, tetapi tidak saya lepas,” ungkapnya.
Selain Yellow Saphire, Akmal mengaku juga memiliki koleksi Blue Saphire senilai Rp 1,5 miliar. Namun khusus yang satu ini tidak ia pajang di lokasi festival. “Kalau ada yang berminat bisa menemui saya,” imbuhnya.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/02/05/cincin-yellow-saphire-terjual-rp-585-juta

Batu Cincin Terjual Capai Rp 1,2 Miliar

* Pada Pagelaran Atjeh Batee Festival
Batu cincin yellow saphire seharga Rp 425.000.000 terpajang pada stan Atjeh Batee Festival di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (4/2). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Festival Batu Aceh (Atjeh Batee Festival) yang berlangsung di Hermes Palace Hotel Banda Aceh nyaris tak pernah sepi. Sejak dibuka pukul 10.00, pengunjung terus saja berdatangan, bahkan sampai menjelang ditutup pukul 22.00 WIB.
Menurut keterangan pihak penyelenggara, rata-rata pengunjung yang datang setiap hari mencapai 1.000-an orang. Tidak heran kalau transaksi yang terjadi juga lumayan besar, yakni mencapai Rp 1,2 miliar. Angka itu merupakan angka transaksi yang terjadi selama tiga hari penyelenggaraan.
“Berdasarkan rekap data hari pertama, kedua, dan ketiga oleh panitia, total transaksi mencapai sekitar Rp 1,2 miliar lebih,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan, yang juga penyelenggara kegiatan, kepada Serambi, Kamis (5/2).
Kebanyakan pengunjung disebutkannya, membeli batu cincin pada rentang harga Rp 100 jutaan ke bawah. Batu yang paling banyak diminati di antaranya Idocrase atau Lumut Aceh dan Calcedony.
“Batu-batu akik juga lumayan banyak peminatnya, ini mungkin dilihat dari harganya yang relatif lebih murah dibandingkan batu lainnya,” ujar Safwan.
Pada Kamis kemarin juga digelar kontes batu. Penanggung jawab Atjeh Batee Festival, Octowandi, menyebutkan, untuk peserta kelas batu Idocrase, total jumlah peserta sebanyak 212 orang.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/02/06/batu-cincin-terjual-capai-rp-12-miliar

Ini Dia Giok Terbaik Dari Aceh Tengah

Kawasan Aceh Tengah dikenal sebagai salah satu sentra produsen kopi terbaik dunia. Kini, Negeri Antara ini semakin dikenal dunia dengan batu giok yang juga termasuk terbaik di jagad raya ini.
Asalnya, dua kampung, Lumut di Kecamatan Linge dan Gemboyah di Kecamatan Jagung Jeget yang telah menjadi tempat perburuan para pedagang dan pecinta batu untuk mendapatkan giok terbaik. Puluhan orang dari berbagai daerah hilir-mudik di dua kampung itu yang telah berubah menjadi pusat pasar batu.
Tetapi, sebelum tiba di pasar batu, para pemburu harus bertarung dengan ganasnya hutan Rimba Raya. Mereka harus berdiam beberapa hari untuk mendapatkan bongkahan di antara batu-batu besar pegunungan atau juga berendam dalam sungai selama berjam-jam. Keuletan dan ketabahan para pemburu giok tidak perlu diragukan lagi, tetapi kebersamaan harus tetap dijaga.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/11/09/ini-dia-giok-terbaik-dari-aceh-tengah

VIDEO Para Pencari Batu Giok

PERUT bumi Aceh ternyata menyimpan kekayaan yang melimpah. Selain minyak, gas, bijih besi dan logam mulia --yang memang sudah dieksploitasi besar-besaran-- yang paling diburu sekarang adalah batu mulia, Giok.
Batu alam bernilai tinggi dengan kualitas paling bagus itu ada di beberapa kawasan pegunungan Aceh Jaya dan kabupaten Nagan Raya.
Para pencari batu berasal dari berbagai kawasan di Aceh. Bahkan banyak juga yang berasal dari Sumatera Utara dan dari Pulau Jawa. Beberapa warga desa di sekitar lokasi tempat batu mulia itu berada, kini juga berbalik profesi:dari petani/pekebun menjadi pencari batu alam.
Bagaimana proses penambangan giok di hutan-hutan Aceh? simak tayangannya di sini klik Ekespedisi Mencari Batu Mulia di Aceh Jaya. https://www.youtube.com/watch?v=Ta9nrE7NJ0E#t=30

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/21/video-para-pencari-giok

Giok Aceh Nomor Dua Terbaik di Dunia

Ir Muhammad Usman (50), putra Aceh yang sudah 30 tahun menjadi kolektor batu permata, mengklaim bahwa kualitas batu giok Aceh menempati peringkat kedua di dunia, setelah Burma (Myanmar), disusul giok Kanada di tempat ketiga.
Ir Muhammad Usman
Hal itu dia ungkapkan kepada Serambi, Selasa (16/12) sore menanggapi laporan eksklusif harian ini berjudul “Aceh Demam Giok” yang dipublikasi kemarin.
Khusus giok jenis nefrit, menurutnya, kualias terbaik di dunia terdapat di Myanmar. “Tapi stoknya di Myanmar sudah habis,” ujar pria yang akrab disapa Abu Usman ini.
Giok nefrit terbaik kedua di dunia, kata Abu Usman, justru terdapat di Indonesia, tepatnya di Nagan Raya, Provinsi Aceh. Giok jenis ini pula yang membuahkan kemenangan bagi Abu Usman saat mengikuti Indonesian Gemstone Competition Idocrass pada Maret 2014 di Jakarta.
Nefrit peringkat ketiga, menurutnya, adalah batu giok yang terdapat di Kanada. Diakuinya, “demam” giok yang terjadi dalam enam bulan terakhir telah menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang di Aceh. Kegemaran mengoleksi batu permata tersebut merambah ke semua lini, tak terkecuali para pejabat di daerah.
Namun siapa sangka, dari sekian banyak jenis batu permata, tiga nama di antaranya dipopulerkan oleh Abu Usman, seperti jenis idocrass, solar, dan neon.
Menurutnya, batu-batu ini memiliki kelebihan dari lobster atau cahaya, warna, kilat kaca, bahkan tingkat kekerasannya yang sudah mencapai 7 pada skala Mohs.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/17/giok-aceh-nomor-dua-terbaik-di-dunia

Bisnis Giok akan Dikutip Retribus

Pemkab Aceh Barat akan mengutip retribusi pada pedagang batu giok di pelataran kompleks Mal Pasar Bina Usaha Meulaboh. Nilai tarif itu akan diatur dalam qanun yang tentunya juga berdasarkan ukuran lapak penjualan batu giok itu, seperti ukuran 1 x 1 meter, maka wajib membayar Rp 1.000 per hari.  
Kepala Unit Pelaksana Teknis Kegiatan (UPTD) Pasar Bina Usaha Meulaboh dari Dinas Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Barat, Darwin mengatakan sebelumnya para penjual giok itu berjualan di trotoar, sehingga mengganggu pengguna jalan. Karena itu, kini mereka sudah tertib berjualan di kompleks pelataran mal.
“Namun untuk tahap-tahap awal ini masih belum diambil retribusi, tetapi ke depan harus diambil sesuai qanun, apalagi lokasi tersebut butuh tenaga kebersihan. Rektribusi sesuai lapak yang dibuka seperti 1 x 1 meter hanya membayar Rp 1.000 per hari,” kata Darwin kepada Serambi kemarin.
Menurut Darwin, puluhan pedagang giok membuka lapak jualan di lokasi itu, ditambah banyaknya calon pembeli atau pembeli, sehingga tempat tersebut, terutama pada malam hari mencapai ribuan orang dan seperti pasar malam. “Ini sebuah peluang bisnis. Ke depan diharapkan akan dibuat sebuah lapak yang lebih tepat,” ujarnya.
Akan diadakan pameran
Secara terpisah, Kapolres Aceh Barat, AKBP Faisal Rivai mengatakan pihaknya akan mengadakan pameran batu giok berkerjasama sejumlah elemen di Aceh Barat di Mal Pasar Bina Usaha, Meulaboh. Pameran ini merupakan rangkaian memeriahkan peringatan ke-116 tahun gugur pahlawan nasional, Teuku Umar, 11 Februari 2015. “Kegiatan itu sedang kita finalkan,” kata Kapolres.
Warga Negara Australia saat melihat batu giok yang dijual di pelataran Mal Pasar Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat, Jumat (16/1).SERAMBI/RIZWAN 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/17/bisnis-giok-akan-dikutip-retribusi

2 Oktober 2013

Bupati Janjikan Bantuan Untuk Gang Giok

Bupati Bireuen Ruslan M Daud meninjau Gang Giok Bireuen, yang kini menjadi kawasan wisata kota dadakan, Senin (12/1/2015) sore. Ruslan berjanji akan membantu pengrajin dan pedagang batu akik dan giok di Gang Giok tersebut.
“Saya sengaja turun ke Gang Giok karena Bireuen sudah lama dikenal dengan batu akiknya, apalagi saat ini sedang ngetrennya batu giok yang harganya sangat menggiurkan,” kata Ruslan.
Bupati berjanji akan mengembangkan kawasan wisata Gang Giok. Bahkan ia akan bermusyawarah dengan dinas terkait serta para pengrajin dan pedagang giok untuk direlokasikan ke tempat yang lebih srategis dan nyaman.
“Jika pengrajin dan pedagang giok mau, Gang Giok ini akan kita relokasikan ke satu tempat yaitu di Pasar Grosir, di jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Geulanggang Teungoh,” kata bupati.
Ruslan juga akan membatu modal usaha, agar para pengrajin dan pedagang giok dan akik lebih kreatif dalam mengembangkan usahanya.
Pedagang memperlihatkan koleksi Batu Giok Aceh. SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/12/bupati-janjikan-bantuan-untuk-gang-giok

4 September 2013

Gang Giok Bireuen Jadi Kawasan Wisata Dadakan

Tren batu giok kini makin menarik perhatian masyarakat banyak. Seperti di Kota Bireuen, gang yang khusus menjajakan batu permata jenis giok, kini menjadi kawasan wisata dadakan. Buktinya, tidak hanya siang hari, pada malam hari juga, Gang Giok Bireuen juga diserbu pengunjung.
Gang giok yang dulunya sepi, kini berubah bak pasar dadakan yang menjadi daya tarik masyarakat untuk mengunjunginya. Meskipun suara deru mesin pengasah giok yang membahana di gang itu, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk cuci mata dengan sinaran serta warna-warni batu giok yang dipajang dirak-rak pedagang giok di Gang Giok Bireuen. [lihat video giok aceh]
Bukan hanya kaum adam saja yang datang ke Gang Giok itu, tidak sedikit, kaum Hawa dan anak-anak usia sekolah pun ikut memadati gang giok dengan luas area empat kali 100 meter itu. Berbagai jenis Giok dijajakan di gang tersebut, diantaranya giok belimbing, bio solar, solar, nefrit, black jet, pucuk pisang, hingga madu merah.
Batu-batu tersebut tidak hanya dibentuk seperti cincin, tapi berbentuk gelang dan kalung. Beberapa pedagang giok di gang tersebut mengatakan, pengunjung yang hadir membludak hingga malam hari. Pengunjung berdatangan untuk sekedar melihat, menawar dan membeli batu dalam bentuk bahan baku ataupun sudah dijadikan cincin, kalung atau bentuk lainnya.
Pengunjung yang datang itu pun dari berbagai latar belakang profesi, seperti pedagang, tukang ojek, pengusaha, pegawai negeri, hingga anak sekolah. Sedangkan harga berbagai jenis giok itu sangat bervariasi, mulai dari harga paling murah Rp 100.000 hingga harga puluhan juta rupiah, tergantung jenis batu dan dan bahan ikatannya.
Penjual batu giok Bireuen, Agus kepada Serambi, Sabtu (10/1) mengatakan, bahan baku giok yang dijualnya didatangkan dari Takengon Aceh Tengah, Nagan Raya, dan Aceh Barat. Harga bahan giok mulai harga termurah Rp 100 ribu per pecahan batu hingga jutaan rupiah. “Kebanyakan pengunjung membeli yang sudah jadi cincin dengan bahan ikatan perak, suasa dan platinum,” kata Agus.
Seorang pengunjung, Alon, saat ditemui di Gang Giok itu menuturkan, ia  mencari beberapa bahan baku batu giok yang masih berbentuk bongkahan untuk digosok sendiri. “Saya suka giok bio solar, belimbing, dan madu merah,” katanya seraya memperlihatkan giok belimbing yang sudah diikat menjadi cincin di jari-jari tangannya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Parawisata Bireuen, Said Abdurrahman yang ditemui terpisah mengatakan, Gang Giok yang kini menjadi kawasan wisata dadakan, sudah sangat layak untuk dikembangkan menjadi wisata kota yang dapat mendatangkan pendapatan daerah dan masyarakat. “Kami akan segera mengembangkan kawasan Gang Giok, supaya dapat menjadi salah satu kawasan wisata yang dilirik masyarakat luar, sehingga tamu yang lewat Bireuen akan singgah di Gang Giok, dengan harapan ke depan dapat menambah pendapatan masyarakat dan daerah,” kata Said Abdurrahman. https://www.youtube.com/watch?v=cLFVCWIRPMM#t=83

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/11/gang-giok-bireuen-jadi-kawasan-wisata-dadakan

Master Limbad Tinjau Potensi Giok Gayo

Master Limbad 
POPULARITAS batu giok Aceh bukan hanya memikat para kolektor batu mulia lokal, tetapi juga Master Limbad. Pesulap yang menyandang gelar Master Magician kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 6 Juli 1972 ini bahkan meninjau langsung potensi giok hingga ke pedalaman Aceh, tepatnya ke Aceh Tengah.
Diam-diam, mentalis kondang ini Kamis (8/10) kemarin berkunjung ke Kampung Lumut, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Setelah Nagan Raya, nama Aceh Tengah memang semakin melambung sebagai lumbung batu mulia tersebut. Sampai-sampai jenis giok yang terdapat di sini pun dinamakan giok lumut. Klop dengan warnanya yang memang hijau lumut.
Tapi varian giok di sini bukan cuma nefrit jenis lumut. Ada juga idocrase dengan varian solar, biosolar, dan biosolar super. Di antara batu mulia itulah yang ingin dilihat langsung oleh Limbad, Kamis lalu.
Kehadiran Master Limbad di Dataran Tinggi Gayo ini mengundang perhatian publik, meski awalnya mereka tak menyangka bahwa pria berikat kepala dan mengenakan kalung serta cincin besar di jemari kedua tangannya itu adalah Limbad. Tapi wajah seramnya yang begitu populer di televisi, membuat sosok misterius ini mudah dikenali sebagai Limbad.
Cuma, penampilannya kali ini sedikit berbeda dengan yang biasa terlihat di televisi. Kali ini, Limbad mengenakan sepatu boot yang bercak lumpurnya terlihat jelas. Lumpur yang menempel di sepatunya ternyata berasal dari lokasi penambangan dan pencarian giok di Kampung Lumut, Linge. Ia ke sana untuk melihat langsung lokasi tempat pengambilan bongkahan batu giok.
Kabar tentang kehadiran pesulap kondang ini ke kota dingin Takengon, hanya diketahui segilintir orang. Ia datang difasilitasi Gayo Gemstone Community (GGC) dan bertemu dengan sejumlah pecinta batu mulia di Gayo. Pertemuan itu berlangsung di HR Cafe, Takengon.
Limbad yang didampingi sejumlah rekannya tiba di HR Café sekira pukul 21.00 WIB. Suami Susi Indrawati ini langsung menyapa ramah sejumlah warga yang sedang santai mengopi di HR Café, termasuk Ketua GGC, Kamal Bahagia, Kadis Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah, Drh Rahmandi, serta sejumlah pecinta batu giok.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/10/master-limbad-tinjau-potensi-giok-gayo

23 Agustus 2013

Bupati Larang Bongkahan Giok Dibawa ke Luar Nagan

Bupati Nagan Raya Drs HT Zulkarnaini menegaskan, pihaknya kini melarang setiap orang membawa bongkahan batu Giok atau batu alam yang diperoleh di kawasan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, ke luar dari kabupaten itu. Batu alam itu, hanya bisa dibawa ke luar dari Nagan apabila sudah diolah dalam bentuk aksesoris atau batu cincin siap pakai, yang diolah oleh pengrajin di kabupaten setempat.
“Bagi yang nekat membawa batu Giok Nagan dalam bentuk bongkahan, akan ditindak tegas, dan batunya kami sita untuk daerah,” kata HT Zulkarnaini, Minggu (28/12). Dikatakannya, aksi pengambilan batu alam di kawasan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, kini sudah sangat meresahkan. Pasalnya, aksi itu sudah mengarah pada pengrusakan lingkungan.
Karena itu, Pemkab Nagan Raya segera melakukan pertemuan dengan pihak terkait, guna mencari solusi supaya kerusakan alam tidak semakin parah, serta masyarakat tetap bisa diberdayakan.
Ia juga memerintahkan intansi terkait di jajaran Pemkab Nagan Raya, untuk segera mengambil tindakan pencegahan terhadap pengiriman batu alam ke luar daerah, seperti yang tertangkap beberapa hari lalu.
Seperti diberitakan sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari aparat kepolisian, TNI, polisi militer beserta petugas Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Nagan Raya, Rabu (24/12) malam, mengamankan sekitar 500 kilogram aneka batu alam jenis Giok asal Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong.
Operasi itu dilakukan petugas terhadap angkutan penumpang umum L300 serta mobil pribadi yang melintasi jalan Meulaboh-Jeuram di kawasan Blang Sapek, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya.
Asnida (52) wanita menetap di Ujong Baroh, Meulaboh, Aceh Barat yang selama ini pencinta batu giok memperlihatkan batu giok di seluruh jari tangannya, Kamis lalu.SERAMBI/RIZWAN 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/29/bupati-larang-bongkahan-giok-dibawa-ke-luar-nagan

3 Agustus 2013

Aceh Demam Giok

BONGKAHAN batu itu sekilas tidak ada yang istimewa. Berbentuk lonjong dengan kulit luar berwarna kuning dan kasar. Seperti batu biasa lainnya yang berasal dari gunung, batu ini memiliki berat sekitar 1,5 kilogram. Namun siapa nyana, dari penampakannya yang biasa saja, bongkahan batu itu dibanderol dengan harga Rp 2,5 juta.
“Boleh dilihat, saya jamin kualitasnya bagus,” kata Arbi, seorang penambang batu giok saat ditemui Serambi di pusat penjualan batu akik dan permata Gemstone kawasan Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Rabu (10/12).
Lelang Batu Giok Aceh. Warga memilih Batu Giok Aceh jenis Neprit (Aceh Nephrite Jade) asal Beutong Nagan Raya yang dilelang pedagang di Kota Lhokseumawe, Aceh, Minggu (4/1). Sejumlah penggemar batu datang ke tempat tersebut untuk mmembeli batu jenis giok yang dijual relatif murah. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Arbi memamerkan batu berjenis cempaka madu itu kepada setiap pengunjung Gemstone. Batu akik cempaka madu dikenal sebagai salah satu jenis batu berharga dan punya citarasa seni tinggi yang kerap diburu konsumen dan kolektor batu permata.
Memiliki warna dominan merah pekat, cempaka madu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemakainya. Selain kelihatan mewah, jenis batu ini memiliki aura stylish bila dipoles dengan aksesori atau rangka yang apik.
Sebetulnya tidak hanya Arbi, ada ratusan penambang batu mulia kini menjamur di Aceh. Mulai dari Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Jaya, hingga Aceh Tengah. Dari banyak jenisnya, giok merupakan salah satu jenis batu mulia yang belakangan populer dan paling diburu para penambang dan kolektor.
Tren menambang batu mulia di Aceh mulai heboh seiring menjamurnya penggemar batu giok di Aceh sejak enam bulan terakhir. Tidak hanya warga di perkotaan maupun perkampungan, fenomena demam batu mulia kini menjadi buah bibir hangat di kalangan eksekutif muda, pegawai negeri sipil, polisi, TNI, maupun karyawan perusahaan BUMN. Semua mereka senang membicarakan batu akik atau batu mulia kesayangannya. Umumnya para Gemstone Mania memakainya karena berbagai alasan. Ada yang mengaku karena hobi, sebagai hadiah untuk teman, maupun koleksi pribadi sampai menjadi lahan bisnis menggiurkan. Bahkan mereka rela merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk mendapat batu akik kesayangannya.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/16/aceh-demam-giok
                http://www.antaranews.com/berita/475494/demam-batu-mulia-landa-serambi-mekah

"Presiden Giok Aceh" Kembangkan Sayap di Rawa Bening

Usahawan giok asal Aceh, Iswadi Azwir,  mengembangkan sayap bisnis, pasar batu Aceh dengan memimpin "Pasar Batu Karya Djatinegara Gemstone, Komplek Rawa Bening, Jakarta," yang diresmikan, Senin (15/12/2014).
Seorang warga memperlihatkan Batu Giok Aceh jenis Radar Besi yang ditemukan di kawasan pegunungan Singgah Mata di Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Selasa (18/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
"Cakupan pasar batu Aceh sekarang sudah makin luas  dengan dibukanya Pasar Batu Karya Dtjatinegara Gemstone. Kita mendapat puluhan stand baru di kawasan Rawa Bening," kata Iswadi yang mendapat julukan "Presiden Giok dari Aceh.
Iswadi adalah salah seorang pemasok batu giok Aceh di Rawa Bening, mal khusus batu mulia terbesar di Asia Tenggara. Selama ini terdapat 20 usawahan giok berasal dari Aceh di Rawa Bening, seperti Ikrar Grmstonr, Edi Gemstone, Amir Gemstone dan sebagainya.
Iswadi menjelaskan, giok Aceh saat ini menjadi primadona di kalangan penikmat batu mulia di Indonesia. "Sehingga banyak juga yang dipalsukan oleh oknum-oknum tertentu. Saya salah seorang yang dimintai konsultasi soal asli tidaknya giok dari Aceh," kata Iswadi.
Iswadi menjelaskan batu Aceh memiliki 114 corak dan khusus giok hanya terdapat di Aceh. "Saya sudah berkonsultasi dengan ahli batu mineral mengenai batu giok Aceh," sebut Iswadi.
Saat ini Iswadi sedang memperkenalkan batu "aswad" atau "black jade"  salah satu jenis batu Aceh yang digunakan sebagai batu terapi. "Peminatnya sangat tinggi, ada dari Jepang dan Korea," kata Iswadi.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/15/presiden-giok-aceh-kembangkan-sayap-di-rawa-bening

Gubernur Dapat Cinderamata Cincin Giok

Gubernur Dapat Cinderamata Cincin Giok
Gubernur Aceh Zaini Abdullah memperoleh cenderamata berupa cincin batu giok Aceh, milik Ikrar dan Iswadi Azwir, pemenang lomba batu mulia Indonesia Gemstone. penyerahan cincin tersebut dilakukan dalam acara penyerahan sertifikat Saman di Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (25/9).
Sebagai bentuk rasa gembira, Gubernur langsung mengangkat jari yang sudah berhias cincin giok berwarna hijau lumut ke atas, memperlihatkan kepada seluruh pengunjung, termasuk Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Prof Wiendhu Nuryati.
“Saya gembira bisa menghadiahan cincin giok kepada Gubernur  sebagai bentuk ungkapan perhatian, atas prestasi yang telah diraih Aceh dalam acara Indonesia Gematone,” kata Ikrar yang naik ke panggung bersama Iswadi Azwir, usahawan giok Aceh di Jakarta.
Dalam acara penyerahan sertifikat Saman tersebut, batu giok Aceh turut dipamerkan dalam bentuk bahan baku. Pengunjung menaruh perhatian kepada pajangan giok berwarna hiju lumut tesebut.
Giok Aceh akhir-akhir ini sedang naik daun dan jadi pusat perhatian penggemar dan kolektor batu mulia di Indonesia. Iswadi Azwir nengatakan, giok selain di Nagan Raya juga terdapat di Gayo. “Tapi sementara ini yang sedang dicari giok Nagan, saya kira giok Gayo juga akan booming, mengingat kualitas dan warnanya lebih beragam,” kata Iswadi yang beberapa waktu lalu menjadi pembicara dlam ‘dialog giok’ di Gedung MPR RI.

http://aceh.tribunnews.com/2014/09/27/gubernur-dapat-cinderamata-cincin-giok

24 Juni 2013

15.000 Warga Aceh Kini Berbisnis Batu Giok

Bisnis batu giok dan batu permata lainnya di Aceh semakin berkibar, terutama dalam enam bulan terakhir. Bisnis ini ditekuni oleh sedikitnya 15.000 orang yang tersebar di 13 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Selain itu, hampir di semua daerah di Aceh terdapat batu-batu indah dan bernilai ekonomi yang layak dipasarkan di tingkat nasional, bahkan internasional.
Hal itu diutarakan Ketua Gabungan Pencinta Batu Alam (GaPBA) Aceh, Nasrul Sufi SSos MM kepada Serambi di Banda Aceh, Rabu (17/12) sore menanggapi laporan eksklusif Harian Serambi berjudul “Aceh Demam Giok” yang dipublikasi Selasa (16/12). 
Nasrul Sufi
Nasrul Sufi mengaku mendapatkan data jumlah orang yang terlibat dalam bisnis batu giok itu kini dari perwakilan GaPBA di sebagian Aceh. “Sejak didirikan oleh beberapa orang pada 26 Februari 2011, GaPBA Aceh kini sudah punya cabang di 13 kabupaten/kota se-Aceh. Di rata-rata kabupaten dan kota, pebisnis batu gioknya berkisar antara 1.000 hingga 1.200 orang,” sebut Nasrul yang akrab disapa Tgk Abang. Menurut Tgk Abang, Aceh mempunyai potensi yang besar di bidang gemstone. Di Kabupaten Nagan Raya, ia perkirakan tak kurang dari 500 hektare gunung batu yang di dalamnya mengandung 70% giok dalam berbagai jenis. Ada nefrite, idocrass, solar, dan lain-lain.
Sedangkan di Aceh Barat, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan Bener Meriah terdapat potensi giok kualitas super. Aceh Jaya juga kaya dengan giok cempaka madu dan kecubung ametis.
Di wilayah Aceh Besar, Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara terdapat batu sulaiman, badar besi, yakut, lumut merah, dan teratai. Selain itu, di Langsa sering pula didapat megamendung kristal.
Sementara di Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara  terdapat potensi batu giok dan kecubung, di samping batu akik.  Di Aceh Singkil, Aceh Timur, Simeulue, dan Sabang terdapat pula batu- batu terbaik yang laris di pasar lokal dan nasional.
“Di Kampung Pande, Banda Aceh pun sering juga kita dapatkan safir dengan kualitas kekerasannya 7 skala Mosh,” sebut Tgk Abang. Di Subulussalam dan Aceh Tamiang juga terdapat akik yang bagus. “Artinya, hampir semua daerah di Aceh terdapat batu-batu yang layak dipasarkan di tingkat nasional, bahkan internasional,” kata Tgk Abang.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/18/15000-warga-aceh-kini-berbisnis-batu-giok

21 Juni 2013

Giok Aceh Juara di Indonesia Gamstone

IKRAR, Win Syukur dan Hari Zaki, para juara kategori “idocrase solar”. SERAMBI/FIKAR W.EDA 
Giok Aceh kembali memperlihatkan keunggulannya dengan menyabet dua hadiah utama dan tiga juara lainnya, dalam Lomba Batu Mulia atau “Indonesian Gemstone” di Jakarta. Para pemenang lomba tersebut diumumkan Minggu (21/9) malam.
Batu milik Ikrar, mantan penjaga Mess Aceh Jakarta, meraih juara pertama untuk kategori “idocrase solar”. Sedangkan juara dua diraih Win Syukur, pria Gayo yang pertama sekali mengangkat Giok Gayo dalam kancah batu mulia Indonesia. Sedangkan juara tiga diraih Harizaki dari Jakarta.
Atas kemenangan itu, Ikrar, yang pernah bekerja sebagai penjaga Mess Aceh Jakarta, memperoleh hadiah polis asuransi Rp 100 juta, uang pembinaan dan piagam. Ikrar mengaku bersyukur atas kemenangan tersebut. “Sama sekali tidak pernah saya duga, kalau batu milik saya pemenangnya,” kata Ikrar yang sehari-hari berjualan giok Aceh di emperan atau pasar kaki lima Rawa Bening Jakarta.
Perasaan serupa diungkapkan Win Syukur, pemilik galeri “Win Natural” Banda Aceh.  “Belasan tahun saya sudah berusaha mengangkat batu Aceh baik batu giok dari Gayo maupun Nagan. Semoga dengan prestasi ini akan ikut mengangkat martabat Aceh dalam kancah batu mulia Indonesia dan dunia,” kata Win Syukur, yang bersusah payah berburu batu giok di pedalaman Gayo dan Nagan Raya.
Win Syukur mengatakan, giok terdapat di Gayo dan Nagan, dengan kualitas sangat super. “Selain giok Nagan, konsumen juga memburu giok Gayo, karena itu perlu ada penanganan khusus sehingga masyarakat tidak dirugikan,” kata Win Syukur yang telah membina sejumlah anggota masyarakat di Aceh dalam industri batu mulia.
Win Syukur termasuk salah seorang yang berjasa mengmbangkan varian “giok solar” dan “giok lumut”. Dan saat ini ia memiliki koleksi varian giok putih yang diperoleh dari pedalaman Gayo. Ia juag melakukan terobosan industri batu sebagai benda seni bernilai tinggi, di luar cincin dan liontin. “Inovasi harus dilakukan terus menerus,” katanya.
Untuk kategori giok “idocrase lumut”, seluruhnya direbut oleh batu asal Aceh. Namun, pemiliknya bukan lagi warga Aceh. Juara satu dan dua dimenangkan batu milik Muria, kolektor batu Jakarta. Muria memperoleh batu tersebut dari Abu Usman dengan membelinya masing-masing Rp 50 juta.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/23/giok-aceh-juara-di-indonesia-gamstone

20 Juni 2013

Ikrar, Bekas Penjaga Mess Aceh jadi Raja Giok

Awalnya sebagai anggota satuan  penjaga keamanan (Satpam) Mess Aceh, kemudian beralih menjadi pedagang giok Aceh yang sukses. Namanya Ikrar,  kini dikenal sebagai "raja nefrite atau giok Aceh" di Rawa Bening, pusat perdagangan batu mulia di Jakarta.
Dengan penghasilan rata-rata Rp 20 juta per bulan, membuat Ikrar makin betah di bisnis giok Aceh. "Dulu giok Aceh tak ada pasar. Tapi sekarang dicari banyak penggemar. Tentu perjuangan ini tidak semudah membalik telapak tangan, harus melalui fase-fase jumpalitan," kata Ikrar saat menceritakan perjalanan hidupnya kepada Serambi, di arena pameran batu giok di Gedung MPR RI, pekan lalu.
Kepada pengunjung pameran, Ikrar dengan fasih menceritakan keunggulan giok Aceh yang berasal dari Nagan Raya, dan Sungai Lumut Aceh Tengah. Untuk membuktikan keterangannya, sesekali Ikrar membakar kalung bermata giok seukuran kepalan tangan, dan sejerus kemudian menempelkannya pada kelopak mata.  "Sama sekali tidak panas. Tetap dingin," terangnya penuh semangat.
Ia pun lantas mengusulkan agar gedung MPR dilengkapi batu giok di tiap ruangan yang akan memancarkan hawa dingin. "Kita tak perlu AC lagi kalau sudah ada giok dalam ruangan. Tinggal ukurannya saja di sesuaikan dengan kapasitas ruangan," lanjut Ikrar.
Ikrar, pria asli Aceh, menjalani pendidikan sampai sekolah menengah di Banda Aceh, semula beradu peruntungan dengan melamar pekerjaan di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta. Ia lalu diterima sebagai penjaga keamanan Mess Aceh yang sekarang telah beralih fungsi sebagai hotel. "Penghasilan sebagai petugas keamanan jauh dari cukup untuk kehidupan sebuah keluarga di Jakarta. Saya harus kreatif menyiasati keadaan, sebagai penjual batu giok. Eh, lama kelamaan bisnis batu makin menjanjikan, dan saya kemudian memutuskan berhenti sebagai penjaga mess," kata Ikrar, bapak dua anak. Profesi sebagai petugas satpam dijalaninya 1,5 tahun.
Di kalangan penjual batu mulia di Rawa Bening, Ikrar, dijuluki sebagai "raja nefrite" atau "raja giok Aceh." Itu karena yang didagangkannya seluruhnya giok dari Aceh. Ia juga berdagang di emperan alias kaki lima. Dengan sebuah "standing banner" yang bertuliskan "Ikrar Stone," sosoknya segera mudah dikenali dari logat bicaranya yang sangat Aceh. Ikrar memperoleh batu giok dari Nagan Raya. Tersedia dalam bentuk batangan atau kotak persegi empat, juga dalam bentuk potongan kecil seukuran ibu jari. Juga ada dalam bentuk cincin siap pakai.
Ikrar, Raja Giok Aceh

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/17/ikrar-bekas-penjaga-mess-aceh-jadi-raja-giok

14 Juni 2013

Giok ‘Nefrite Jade’ Hanya Ada di Aceh

Ketua Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia yang juga seorang  geologist dan gemmologist, Ir H Sujatmiko, Dipl Eng, dengan bangga menyebutkan bahwa di Indonesia hanya Aceh yang memiliki batu mulia giok jenis ‘Nefrite Jade’.
Sujatmiko menyarankan agar Pemerintah di Aceh mampu mengolah potensi batu mulia tersebut untuk kesejahteraan dan kemakmuran Aceh.
“Awalnya kami menduga bahwa giok jenis Nefrite Jade ada di Jawa. Tapi setelah diteliti lebih jauh ternyata tidak ada di Jawa, melainkan adanya di Aceh,” kata Sujatmiko yang ditemui Serambi di kantornya, Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia, Jalan Padjadjaran Bandung, Jumat (4/5) sore.
Dua daerah di Aceh yang menyimpan batu mulia ini adalah Nagan Raya dan Sungai Lumut, Aceh Tengah dan Gayo Lues. “Giok Nagan berewarna hijau terang dan giok Sungai Lumut hijau tua,” terang Sujatmiko.
Ia mengetahui potensi giok Aceh sejak 20 tahun lalu dan pertama kali berkenalan dengan giok dari Sungai Lumut. “Ketika itu ada seseorang yang membawa contoh batu Sungai Lumut, dan saya kaget ternyata sangat  luar biasa,” katanya. Belakangan ia mengetahui ada giok dari Nagan dengan warna hijau yang lebih terang.
Selain giok jenis Nefrit Jade, Aceh juga memiliki batu mulia lainnya yang disebut Fluorite, Rose Quartz, Serventen, Batu Kristal, Marmar Hitam, dan Idocrase. Beberapa jens giok Aceh saat ini memiliki harga tinggi di pasar perbatuan nasional, seperti Nefrite Jade dan Idocrase atau Lumut Aceh.
Sujatmiko juga terkejut saat mengetahui kalau berton-ton batu giok dari Nagan dibawa ke luar dari Aceh dalam bentuk bongkahan. Ia meminta Pemerintah agar melarang tindakan tersebut karena tidak membawa keuntungan apa-apa bagi Aceh.
AHLI batu Ir Sujatmiko mengamati batu dari Aceh disaksian seniman asal Aceh, Yoppi Andri, Jumat (4/7) di Bandung. SERAMBI/FIKAR W.EDA
“Sebaliknya batu-batu tersebut harus diolah di Aceh dan menumbuh-kembangkan pengrajin-pengrajin batu. Itu tugas pemerintah memfasilitasinya,” tukas Sujatmiko.
Ia juga mempersilakan Pemerintah Aceh atau Pemerintah Nagan Raya mengundang peminat batu mulia dari luar negeri dan melelangnya. “Bisa dilelang dengan melibatkan pihak asing, asalkan syaratnya harus diolah di daerah, bukan bongkahannya di bawa ke luar Aceh,” kata Sujatmiko.
Sujatmiko mengatakan Aceh harus bisa menjadi pelopor membuat aturan mengenai pemanfaatan batu mulia sehingga bisa menciptakan kesejahteraan bagi masyrakatnya. “Selama ini Pemerintah Indonesia tidak punya perhatian soal itu. Aceh bisa membuat terobosan,” katanya.  

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/07/06/giok-nefrite-jade-hanya-ada-di-aceh

28 Mei 2013

Lebih 100 Ton Giok Nagan ke Luar Aceh


Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GAPBA) memprihatinkan eksploirasi besar-besaran batu giok di kawasan Gunung Singgah Mata, Kecamatan Beutong, Nagan Raya yang bukan saja akan merugikan daerah secara ekonomi tetapi juga mengganggu keseimbangan alam.
“Eksploirasi batu giok Nagan terus berlangsung secara diam-diam dengan pengerahan alat berat. Menurut taksiran kami sudah lebih 100 ton batu berharga dari kawasan Gunung Singgah Mata tersebut dilarikan ke luar Aceh,” kata Ketua DPP GAPBA, Tgk Nasrul Sufi SSos MM kepada Serambi, Rabu (21/5).

Nasrul yang akrab disapa Teungku Abang mengatakan, para pebisnis dan pecinta serta kolektor batu giok khususnya dan batu alam Aceh pada umumnya diimbau untuk tidak melakukan ekploirasi secara besar-besaran dengan memobilisasi alat berat ke lokasi galian. “Cara-cara seperti itu akan sangat merugikan daerah dan masyarakat,” tandas Teungku Abang.
Menurut GAPBA, eksploirasi secara besar-besaran dengan menggunakan alat berat akan mengancam keseimbangan alam apalagi kawasan di sekitar batu giok Nagan hutan lindung yang sejatinya harus terjaga dan terpelihara. “Kalau dilakukan pengambilan secara manual oleh masyarakat setempat mungkin masih bisa ditolerir sejauh tidak merusak hutan lindung,” katanya.
Batu alam Aceh termasuk batu giok asal Nagan dan sekitarnya, menurut Teungku Abang sudah diakui kualitasnya oleh masyarakat dunia. Buktinya, ketika kontes batu tingkat Asia Pasifik di Jakarta beberapa waktu lalu, Aceh menyabet juara I sampai V. “Sejak itu batu Aceh termasuk giok Nagan semakin diburu dan dipesan oleh pecinta baru di seluruh dunia,” ujarnya.
Saat ini, ungkap Teungku Abang, lebih 100 ton batu giok dikirim ke luar Aceh termasuk ke negara-negara Asia dan Eropa. Data yang ditelusuri GAPBA, dari jumlah 100 ton itu, 50 ton di antaranya masih mengendap di Jakarta.
Seharusnya, lanjut Teungku Abang, batu giok itu tetap di Aceh dan dikelola secara baik oleh masyarakat, misalnya dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi. Biarkan broker dan pembeli datang ke Aceh sehingga akan memberikan keuntungan secara ekonomi kepada masyarakat dan sekaligus pendapatan bagi daerah. “Kita berharap semua pihak terkait terutama dinas pertambangan untuk mengawasi secara ketat eksploirasi batu giok Nagan agar tidak ada yang dirugikan,” kata Ketua DPD GAPBA. Dia juga berharap kepada semua pihak untuk tidak membawa-bawa nama GAPBA untuk melegalkan aksi bisnis giok, “GAPBA punya AD/ART yang jelas dan setiap anggota GAPBA punya kartu anggota yang dikeluarkan oleh DPP GAPBA Aceh,” katanya.
Juga diinformasikan, pada awal Juni mendatang, GAPBA akan memperingati hari jadi dengan menggelar aneka kegiatan termasuk kontes batu. “Ini kesempatan bagi masyarakat pebisnis, pecinta, kolektor, dan perajin batu untuk ikut melihat langsung kekayaan alam Aceh,” demikian pernyataan GAPBA.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (DPP GAPBA), Nasrul Sufi menjelaskan, saat ini jenis batu Aceh yang paling diminati pasar lokal, nasional, dan international adalah jenis giok idocres, sportlet, neprit, anggur, juga giok solar.
Giok-giok yang paling diburu itu, menurut Nasrul Sufi yang akrab dipanggil Teungku Abang untuk sementara ini hanya ditemukan di kawasan Aceh Barat, Nagan Raya, Geumpang (Pidie), dan Aceh Tengah.  Selain giok, Aceh juga kaya dengan batu akik lainnya seperti sulaiman, yakut, kecubung wulung, dan madu teratai yang ditemukan di hampir semua daerah di Aceh dan tetap diminati.
Menurut Teungku Abang, sekitar tiga tahun lalu perajin dan pedagang batu hanya sekitar 100 orang, namun pasca-terbentuknya wadah GAPBA jumlah pedagang dan perajin batu cincin saat ini mencapai 500 orang di seluruh Aceh. “Alhamdulillah bisnis batu semakin menggairahkan dan GAPBA berkewajiban melindungi usaha anggota maupun masyarakat,” kata Nasrul Sufi

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/05/22/lebih-100-ton-giok-nagan-ke-luar-aceh