Awalnya sebagai anggota satuan penjaga keamanan (Satpam) Mess Aceh, kemudian beralih menjadi pedagang giok Aceh yang sukses. Namanya Ikrar, kini dikenal sebagai "raja nefrite atau giok Aceh" di Rawa Bening, pusat perdagangan batu mulia di Jakarta.
Dengan penghasilan rata-rata Rp 20 juta per bulan, membuat Ikrar makin betah di bisnis giok Aceh. "Dulu giok Aceh tak ada pasar. Tapi sekarang dicari banyak penggemar. Tentu perjuangan ini tidak semudah membalik telapak tangan, harus melalui fase-fase jumpalitan," kata Ikrar saat menceritakan perjalanan hidupnya kepada Serambi, di arena pameran batu giok di Gedung MPR RI, pekan lalu.
Kepada pengunjung pameran, Ikrar dengan fasih menceritakan keunggulan giok Aceh yang berasal dari Nagan Raya, dan Sungai Lumut Aceh Tengah. Untuk membuktikan keterangannya, sesekali Ikrar membakar kalung bermata giok seukuran kepalan tangan, dan sejerus kemudian menempelkannya pada kelopak mata. "Sama sekali tidak panas. Tetap dingin," terangnya penuh semangat.
Ia pun lantas mengusulkan agar gedung MPR dilengkapi batu giok di tiap ruangan yang akan memancarkan hawa dingin. "Kita tak perlu AC lagi kalau sudah ada giok dalam ruangan. Tinggal ukurannya saja di sesuaikan dengan kapasitas ruangan," lanjut Ikrar.
Ikrar, pria asli Aceh, menjalani pendidikan sampai sekolah menengah di Banda Aceh, semula beradu peruntungan dengan melamar pekerjaan di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta. Ia lalu diterima sebagai penjaga keamanan Mess Aceh yang sekarang telah beralih fungsi sebagai hotel. "Penghasilan sebagai petugas keamanan jauh dari cukup untuk kehidupan sebuah keluarga di Jakarta. Saya harus kreatif menyiasati keadaan, sebagai penjual batu giok. Eh, lama kelamaan bisnis batu makin menjanjikan, dan saya kemudian memutuskan berhenti sebagai penjaga mess," kata Ikrar, bapak dua anak. Profesi sebagai petugas satpam dijalaninya 1,5 tahun.
Di kalangan penjual batu mulia di Rawa Bening, Ikrar, dijuluki sebagai "raja nefrite" atau "raja giok Aceh." Itu karena yang didagangkannya seluruhnya giok dari Aceh. Ia juga berdagang di emperan alias kaki lima. Dengan sebuah "standing banner" yang bertuliskan "Ikrar Stone," sosoknya segera mudah dikenali dari logat bicaranya yang sangat Aceh. Ikrar memperoleh batu giok dari Nagan Raya. Tersedia dalam bentuk batangan atau kotak persegi empat, juga dalam bentuk potongan kecil seukuran ibu jari. Juga ada dalam bentuk cincin siap pakai.
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/17/ikrar-bekas-penjaga-mess-aceh-jadi-raja-giok
Dengan penghasilan rata-rata Rp 20 juta per bulan, membuat Ikrar makin betah di bisnis giok Aceh. "Dulu giok Aceh tak ada pasar. Tapi sekarang dicari banyak penggemar. Tentu perjuangan ini tidak semudah membalik telapak tangan, harus melalui fase-fase jumpalitan," kata Ikrar saat menceritakan perjalanan hidupnya kepada Serambi, di arena pameran batu giok di Gedung MPR RI, pekan lalu.
Kepada pengunjung pameran, Ikrar dengan fasih menceritakan keunggulan giok Aceh yang berasal dari Nagan Raya, dan Sungai Lumut Aceh Tengah. Untuk membuktikan keterangannya, sesekali Ikrar membakar kalung bermata giok seukuran kepalan tangan, dan sejerus kemudian menempelkannya pada kelopak mata. "Sama sekali tidak panas. Tetap dingin," terangnya penuh semangat.
Ia pun lantas mengusulkan agar gedung MPR dilengkapi batu giok di tiap ruangan yang akan memancarkan hawa dingin. "Kita tak perlu AC lagi kalau sudah ada giok dalam ruangan. Tinggal ukurannya saja di sesuaikan dengan kapasitas ruangan," lanjut Ikrar.
Ikrar, pria asli Aceh, menjalani pendidikan sampai sekolah menengah di Banda Aceh, semula beradu peruntungan dengan melamar pekerjaan di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta. Ia lalu diterima sebagai penjaga keamanan Mess Aceh yang sekarang telah beralih fungsi sebagai hotel. "Penghasilan sebagai petugas keamanan jauh dari cukup untuk kehidupan sebuah keluarga di Jakarta. Saya harus kreatif menyiasati keadaan, sebagai penjual batu giok. Eh, lama kelamaan bisnis batu makin menjanjikan, dan saya kemudian memutuskan berhenti sebagai penjaga mess," kata Ikrar, bapak dua anak. Profesi sebagai petugas satpam dijalaninya 1,5 tahun.
Di kalangan penjual batu mulia di Rawa Bening, Ikrar, dijuluki sebagai "raja nefrite" atau "raja giok Aceh." Itu karena yang didagangkannya seluruhnya giok dari Aceh. Ia juga berdagang di emperan alias kaki lima. Dengan sebuah "standing banner" yang bertuliskan "Ikrar Stone," sosoknya segera mudah dikenali dari logat bicaranya yang sangat Aceh. Ikrar memperoleh batu giok dari Nagan Raya. Tersedia dalam bentuk batangan atau kotak persegi empat, juga dalam bentuk potongan kecil seukuran ibu jari. Juga ada dalam bentuk cincin siap pakai.
![]() |
| Ikrar, Raja Giok Aceh |
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/17/ikrar-bekas-penjaga-mess-aceh-jadi-raja-giok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar