24 Juni 2013

15.000 Warga Aceh Kini Berbisnis Batu Giok

Bisnis batu giok dan batu permata lainnya di Aceh semakin berkibar, terutama dalam enam bulan terakhir. Bisnis ini ditekuni oleh sedikitnya 15.000 orang yang tersebar di 13 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Selain itu, hampir di semua daerah di Aceh terdapat batu-batu indah dan bernilai ekonomi yang layak dipasarkan di tingkat nasional, bahkan internasional.
Hal itu diutarakan Ketua Gabungan Pencinta Batu Alam (GaPBA) Aceh, Nasrul Sufi SSos MM kepada Serambi di Banda Aceh, Rabu (17/12) sore menanggapi laporan eksklusif Harian Serambi berjudul “Aceh Demam Giok” yang dipublikasi Selasa (16/12). 
Nasrul Sufi
Nasrul Sufi mengaku mendapatkan data jumlah orang yang terlibat dalam bisnis batu giok itu kini dari perwakilan GaPBA di sebagian Aceh. “Sejak didirikan oleh beberapa orang pada 26 Februari 2011, GaPBA Aceh kini sudah punya cabang di 13 kabupaten/kota se-Aceh. Di rata-rata kabupaten dan kota, pebisnis batu gioknya berkisar antara 1.000 hingga 1.200 orang,” sebut Nasrul yang akrab disapa Tgk Abang. Menurut Tgk Abang, Aceh mempunyai potensi yang besar di bidang gemstone. Di Kabupaten Nagan Raya, ia perkirakan tak kurang dari 500 hektare gunung batu yang di dalamnya mengandung 70% giok dalam berbagai jenis. Ada nefrite, idocrass, solar, dan lain-lain.
Sedangkan di Aceh Barat, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan Bener Meriah terdapat potensi giok kualitas super. Aceh Jaya juga kaya dengan giok cempaka madu dan kecubung ametis.
Di wilayah Aceh Besar, Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara terdapat batu sulaiman, badar besi, yakut, lumut merah, dan teratai. Selain itu, di Langsa sering pula didapat megamendung kristal.
Sementara di Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara  terdapat potensi batu giok dan kecubung, di samping batu akik.  Di Aceh Singkil, Aceh Timur, Simeulue, dan Sabang terdapat pula batu- batu terbaik yang laris di pasar lokal dan nasional.
“Di Kampung Pande, Banda Aceh pun sering juga kita dapatkan safir dengan kualitas kekerasannya 7 skala Mosh,” sebut Tgk Abang. Di Subulussalam dan Aceh Tamiang juga terdapat akik yang bagus. “Artinya, hampir semua daerah di Aceh terdapat batu-batu yang layak dipasarkan di tingkat nasional, bahkan internasional,” kata Tgk Abang.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/18/15000-warga-aceh-kini-berbisnis-batu-giok

21 Juni 2013

Giok Aceh Juara di Indonesia Gamstone

IKRAR, Win Syukur dan Hari Zaki, para juara kategori “idocrase solar”. SERAMBI/FIKAR W.EDA 
Giok Aceh kembali memperlihatkan keunggulannya dengan menyabet dua hadiah utama dan tiga juara lainnya, dalam Lomba Batu Mulia atau “Indonesian Gemstone” di Jakarta. Para pemenang lomba tersebut diumumkan Minggu (21/9) malam.
Batu milik Ikrar, mantan penjaga Mess Aceh Jakarta, meraih juara pertama untuk kategori “idocrase solar”. Sedangkan juara dua diraih Win Syukur, pria Gayo yang pertama sekali mengangkat Giok Gayo dalam kancah batu mulia Indonesia. Sedangkan juara tiga diraih Harizaki dari Jakarta.
Atas kemenangan itu, Ikrar, yang pernah bekerja sebagai penjaga Mess Aceh Jakarta, memperoleh hadiah polis asuransi Rp 100 juta, uang pembinaan dan piagam. Ikrar mengaku bersyukur atas kemenangan tersebut. “Sama sekali tidak pernah saya duga, kalau batu milik saya pemenangnya,” kata Ikrar yang sehari-hari berjualan giok Aceh di emperan atau pasar kaki lima Rawa Bening Jakarta.
Perasaan serupa diungkapkan Win Syukur, pemilik galeri “Win Natural” Banda Aceh.  “Belasan tahun saya sudah berusaha mengangkat batu Aceh baik batu giok dari Gayo maupun Nagan. Semoga dengan prestasi ini akan ikut mengangkat martabat Aceh dalam kancah batu mulia Indonesia dan dunia,” kata Win Syukur, yang bersusah payah berburu batu giok di pedalaman Gayo dan Nagan Raya.
Win Syukur mengatakan, giok terdapat di Gayo dan Nagan, dengan kualitas sangat super. “Selain giok Nagan, konsumen juga memburu giok Gayo, karena itu perlu ada penanganan khusus sehingga masyarakat tidak dirugikan,” kata Win Syukur yang telah membina sejumlah anggota masyarakat di Aceh dalam industri batu mulia.
Win Syukur termasuk salah seorang yang berjasa mengmbangkan varian “giok solar” dan “giok lumut”. Dan saat ini ia memiliki koleksi varian giok putih yang diperoleh dari pedalaman Gayo. Ia juag melakukan terobosan industri batu sebagai benda seni bernilai tinggi, di luar cincin dan liontin. “Inovasi harus dilakukan terus menerus,” katanya.
Untuk kategori giok “idocrase lumut”, seluruhnya direbut oleh batu asal Aceh. Namun, pemiliknya bukan lagi warga Aceh. Juara satu dan dua dimenangkan batu milik Muria, kolektor batu Jakarta. Muria memperoleh batu tersebut dari Abu Usman dengan membelinya masing-masing Rp 50 juta.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/23/giok-aceh-juara-di-indonesia-gamstone

20 Juni 2013

Ikrar, Bekas Penjaga Mess Aceh jadi Raja Giok

Awalnya sebagai anggota satuan  penjaga keamanan (Satpam) Mess Aceh, kemudian beralih menjadi pedagang giok Aceh yang sukses. Namanya Ikrar,  kini dikenal sebagai "raja nefrite atau giok Aceh" di Rawa Bening, pusat perdagangan batu mulia di Jakarta.
Dengan penghasilan rata-rata Rp 20 juta per bulan, membuat Ikrar makin betah di bisnis giok Aceh. "Dulu giok Aceh tak ada pasar. Tapi sekarang dicari banyak penggemar. Tentu perjuangan ini tidak semudah membalik telapak tangan, harus melalui fase-fase jumpalitan," kata Ikrar saat menceritakan perjalanan hidupnya kepada Serambi, di arena pameran batu giok di Gedung MPR RI, pekan lalu.
Kepada pengunjung pameran, Ikrar dengan fasih menceritakan keunggulan giok Aceh yang berasal dari Nagan Raya, dan Sungai Lumut Aceh Tengah. Untuk membuktikan keterangannya, sesekali Ikrar membakar kalung bermata giok seukuran kepalan tangan, dan sejerus kemudian menempelkannya pada kelopak mata.  "Sama sekali tidak panas. Tetap dingin," terangnya penuh semangat.
Ia pun lantas mengusulkan agar gedung MPR dilengkapi batu giok di tiap ruangan yang akan memancarkan hawa dingin. "Kita tak perlu AC lagi kalau sudah ada giok dalam ruangan. Tinggal ukurannya saja di sesuaikan dengan kapasitas ruangan," lanjut Ikrar.
Ikrar, pria asli Aceh, menjalani pendidikan sampai sekolah menengah di Banda Aceh, semula beradu peruntungan dengan melamar pekerjaan di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta. Ia lalu diterima sebagai penjaga keamanan Mess Aceh yang sekarang telah beralih fungsi sebagai hotel. "Penghasilan sebagai petugas keamanan jauh dari cukup untuk kehidupan sebuah keluarga di Jakarta. Saya harus kreatif menyiasati keadaan, sebagai penjual batu giok. Eh, lama kelamaan bisnis batu makin menjanjikan, dan saya kemudian memutuskan berhenti sebagai penjaga mess," kata Ikrar, bapak dua anak. Profesi sebagai petugas satpam dijalaninya 1,5 tahun.
Di kalangan penjual batu mulia di Rawa Bening, Ikrar, dijuluki sebagai "raja nefrite" atau "raja giok Aceh." Itu karena yang didagangkannya seluruhnya giok dari Aceh. Ia juga berdagang di emperan alias kaki lima. Dengan sebuah "standing banner" yang bertuliskan "Ikrar Stone," sosoknya segera mudah dikenali dari logat bicaranya yang sangat Aceh. Ikrar memperoleh batu giok dari Nagan Raya. Tersedia dalam bentuk batangan atau kotak persegi empat, juga dalam bentuk potongan kecil seukuran ibu jari. Juga ada dalam bentuk cincin siap pakai.
Ikrar, Raja Giok Aceh

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/09/17/ikrar-bekas-penjaga-mess-aceh-jadi-raja-giok

14 Juni 2013

Giok ‘Nefrite Jade’ Hanya Ada di Aceh

Ketua Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia yang juga seorang  geologist dan gemmologist, Ir H Sujatmiko, Dipl Eng, dengan bangga menyebutkan bahwa di Indonesia hanya Aceh yang memiliki batu mulia giok jenis ‘Nefrite Jade’.
Sujatmiko menyarankan agar Pemerintah di Aceh mampu mengolah potensi batu mulia tersebut untuk kesejahteraan dan kemakmuran Aceh.
“Awalnya kami menduga bahwa giok jenis Nefrite Jade ada di Jawa. Tapi setelah diteliti lebih jauh ternyata tidak ada di Jawa, melainkan adanya di Aceh,” kata Sujatmiko yang ditemui Serambi di kantornya, Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia, Jalan Padjadjaran Bandung, Jumat (4/5) sore.
Dua daerah di Aceh yang menyimpan batu mulia ini adalah Nagan Raya dan Sungai Lumut, Aceh Tengah dan Gayo Lues. “Giok Nagan berewarna hijau terang dan giok Sungai Lumut hijau tua,” terang Sujatmiko.
Ia mengetahui potensi giok Aceh sejak 20 tahun lalu dan pertama kali berkenalan dengan giok dari Sungai Lumut. “Ketika itu ada seseorang yang membawa contoh batu Sungai Lumut, dan saya kaget ternyata sangat  luar biasa,” katanya. Belakangan ia mengetahui ada giok dari Nagan dengan warna hijau yang lebih terang.
Selain giok jenis Nefrit Jade, Aceh juga memiliki batu mulia lainnya yang disebut Fluorite, Rose Quartz, Serventen, Batu Kristal, Marmar Hitam, dan Idocrase. Beberapa jens giok Aceh saat ini memiliki harga tinggi di pasar perbatuan nasional, seperti Nefrite Jade dan Idocrase atau Lumut Aceh.
Sujatmiko juga terkejut saat mengetahui kalau berton-ton batu giok dari Nagan dibawa ke luar dari Aceh dalam bentuk bongkahan. Ia meminta Pemerintah agar melarang tindakan tersebut karena tidak membawa keuntungan apa-apa bagi Aceh.
AHLI batu Ir Sujatmiko mengamati batu dari Aceh disaksian seniman asal Aceh, Yoppi Andri, Jumat (4/7) di Bandung. SERAMBI/FIKAR W.EDA
“Sebaliknya batu-batu tersebut harus diolah di Aceh dan menumbuh-kembangkan pengrajin-pengrajin batu. Itu tugas pemerintah memfasilitasinya,” tukas Sujatmiko.
Ia juga mempersilakan Pemerintah Aceh atau Pemerintah Nagan Raya mengundang peminat batu mulia dari luar negeri dan melelangnya. “Bisa dilelang dengan melibatkan pihak asing, asalkan syaratnya harus diolah di daerah, bukan bongkahannya di bawa ke luar Aceh,” kata Sujatmiko.
Sujatmiko mengatakan Aceh harus bisa menjadi pelopor membuat aturan mengenai pemanfaatan batu mulia sehingga bisa menciptakan kesejahteraan bagi masyrakatnya. “Selama ini Pemerintah Indonesia tidak punya perhatian soal itu. Aceh bisa membuat terobosan,” katanya.  

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/07/06/giok-nefrite-jade-hanya-ada-di-aceh