4 September 2013

Gang Giok Bireuen Jadi Kawasan Wisata Dadakan

Tren batu giok kini makin menarik perhatian masyarakat banyak. Seperti di Kota Bireuen, gang yang khusus menjajakan batu permata jenis giok, kini menjadi kawasan wisata dadakan. Buktinya, tidak hanya siang hari, pada malam hari juga, Gang Giok Bireuen juga diserbu pengunjung.
Gang giok yang dulunya sepi, kini berubah bak pasar dadakan yang menjadi daya tarik masyarakat untuk mengunjunginya. Meskipun suara deru mesin pengasah giok yang membahana di gang itu, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk cuci mata dengan sinaran serta warna-warni batu giok yang dipajang dirak-rak pedagang giok di Gang Giok Bireuen. [lihat video giok aceh]
Bukan hanya kaum adam saja yang datang ke Gang Giok itu, tidak sedikit, kaum Hawa dan anak-anak usia sekolah pun ikut memadati gang giok dengan luas area empat kali 100 meter itu. Berbagai jenis Giok dijajakan di gang tersebut, diantaranya giok belimbing, bio solar, solar, nefrit, black jet, pucuk pisang, hingga madu merah.
Batu-batu tersebut tidak hanya dibentuk seperti cincin, tapi berbentuk gelang dan kalung. Beberapa pedagang giok di gang tersebut mengatakan, pengunjung yang hadir membludak hingga malam hari. Pengunjung berdatangan untuk sekedar melihat, menawar dan membeli batu dalam bentuk bahan baku ataupun sudah dijadikan cincin, kalung atau bentuk lainnya.
Pengunjung yang datang itu pun dari berbagai latar belakang profesi, seperti pedagang, tukang ojek, pengusaha, pegawai negeri, hingga anak sekolah. Sedangkan harga berbagai jenis giok itu sangat bervariasi, mulai dari harga paling murah Rp 100.000 hingga harga puluhan juta rupiah, tergantung jenis batu dan dan bahan ikatannya.
Penjual batu giok Bireuen, Agus kepada Serambi, Sabtu (10/1) mengatakan, bahan baku giok yang dijualnya didatangkan dari Takengon Aceh Tengah, Nagan Raya, dan Aceh Barat. Harga bahan giok mulai harga termurah Rp 100 ribu per pecahan batu hingga jutaan rupiah. “Kebanyakan pengunjung membeli yang sudah jadi cincin dengan bahan ikatan perak, suasa dan platinum,” kata Agus.
Seorang pengunjung, Alon, saat ditemui di Gang Giok itu menuturkan, ia  mencari beberapa bahan baku batu giok yang masih berbentuk bongkahan untuk digosok sendiri. “Saya suka giok bio solar, belimbing, dan madu merah,” katanya seraya memperlihatkan giok belimbing yang sudah diikat menjadi cincin di jari-jari tangannya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Parawisata Bireuen, Said Abdurrahman yang ditemui terpisah mengatakan, Gang Giok yang kini menjadi kawasan wisata dadakan, sudah sangat layak untuk dikembangkan menjadi wisata kota yang dapat mendatangkan pendapatan daerah dan masyarakat. “Kami akan segera mengembangkan kawasan Gang Giok, supaya dapat menjadi salah satu kawasan wisata yang dilirik masyarakat luar, sehingga tamu yang lewat Bireuen akan singgah di Gang Giok, dengan harapan ke depan dapat menambah pendapatan masyarakat dan daerah,” kata Said Abdurrahman. https://www.youtube.com/watch?v=cLFVCWIRPMM#t=83

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/11/gang-giok-bireuen-jadi-kawasan-wisata-dadakan

Master Limbad Tinjau Potensi Giok Gayo

Master Limbad 
POPULARITAS batu giok Aceh bukan hanya memikat para kolektor batu mulia lokal, tetapi juga Master Limbad. Pesulap yang menyandang gelar Master Magician kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 6 Juli 1972 ini bahkan meninjau langsung potensi giok hingga ke pedalaman Aceh, tepatnya ke Aceh Tengah.
Diam-diam, mentalis kondang ini Kamis (8/10) kemarin berkunjung ke Kampung Lumut, Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Setelah Nagan Raya, nama Aceh Tengah memang semakin melambung sebagai lumbung batu mulia tersebut. Sampai-sampai jenis giok yang terdapat di sini pun dinamakan giok lumut. Klop dengan warnanya yang memang hijau lumut.
Tapi varian giok di sini bukan cuma nefrit jenis lumut. Ada juga idocrase dengan varian solar, biosolar, dan biosolar super. Di antara batu mulia itulah yang ingin dilihat langsung oleh Limbad, Kamis lalu.
Kehadiran Master Limbad di Dataran Tinggi Gayo ini mengundang perhatian publik, meski awalnya mereka tak menyangka bahwa pria berikat kepala dan mengenakan kalung serta cincin besar di jemari kedua tangannya itu adalah Limbad. Tapi wajah seramnya yang begitu populer di televisi, membuat sosok misterius ini mudah dikenali sebagai Limbad.
Cuma, penampilannya kali ini sedikit berbeda dengan yang biasa terlihat di televisi. Kali ini, Limbad mengenakan sepatu boot yang bercak lumpurnya terlihat jelas. Lumpur yang menempel di sepatunya ternyata berasal dari lokasi penambangan dan pencarian giok di Kampung Lumut, Linge. Ia ke sana untuk melihat langsung lokasi tempat pengambilan bongkahan batu giok.
Kabar tentang kehadiran pesulap kondang ini ke kota dingin Takengon, hanya diketahui segilintir orang. Ia datang difasilitasi Gayo Gemstone Community (GGC) dan bertemu dengan sejumlah pecinta batu mulia di Gayo. Pertemuan itu berlangsung di HR Cafe, Takengon.
Limbad yang didampingi sejumlah rekannya tiba di HR Café sekira pukul 21.00 WIB. Suami Susi Indrawati ini langsung menyapa ramah sejumlah warga yang sedang santai mengopi di HR Café, termasuk Ketua GGC, Kamal Bahagia, Kadis Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah, Drh Rahmandi, serta sejumlah pecinta batu giok.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/10/master-limbad-tinjau-potensi-giok-gayo