17 Februari 2015

Polisi Bersenjata Jaga 20 Ton Batu Giok di Hutan Lindung Aceh

Warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menemukan 20 ton batu giok super di hutan lindung sekitar tempat tinggal mereka, Selasa (10/2/2015) lalu. Penemuan batu mulia itu tidak memicu keributan antar-warga seperti yang dikabarkan di sejumlah media.
“Tidak benar kalau ada kabar antar-warga terjadi keributan hingga kejar-kejaran pakai senjata tajam (parang). Warga hanya melarang untuk tidak mengambil batu itu sementara waktu karena sedang ada penertiban dari pemerintah setempat," kata Ipda Banta Amad, Kapolsek Betuong, kepada Kompas.com, Senin (16/2/2015). [Baca juga: Batu Alam 20 Ton Timbulkan Konflik] 
Warga bersama aparat mengamankan batu giok seberat 20 ton di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.


11 Februari 2015

Menjamurnya Jasa Asah Batu di Aceh

Banda Aceh, 13/1 (Antaraaceh) - Tampaknya kini tidak lagi mengenal waktu, apakah siang, sore, pagi atau malam hari. Bahkan, desingan suara mesin pembelah batu itu terkadang terus berputar hingga larut malam, bersamaan sebagian besar warga mulai tertidur pulas.
Bahkan lima tahun lalu, bisnis jasa asah batu cincin seperti di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar masih bisa dihitung jari atau tiga hingga empat usaha yang digeluti masyarakat di daerah tersebut.
Tapi kini, usaha jasa asah batu cincin itu tumbuh subur ibarat jamur dimusim hujan seiring demamnya batu giok yang ditemukan di pedalaman Aceh seperti di Kabupaten Nagan Raya dan
Aceh Tengah.
Hampir setiap sudut gampong (desa) di Kota Banda Aceh, berdiri usaha-usaha jasa asah batu cincin, dan sebagian besar usaha tersebut dikelola anak muda. Tidak hanya itu, terkadang pos keamanan desa juga di jadikan sebagai tempat mengasah batu cincin.
Aceh "demam" batu cincin. Seakan-akan, ukuran laki-laki di Aceh saat ini bisa dikatakan "jantan" jika ditangannya dihiasi cincin aneka jenis yang merupakan batuan dari dalam perut bumi, sumberdaya alam di provinsi itu.
Usaha penjualan dan jasa asah batu cincin itu tidak pernah sepi, bahkan hingga larut malam tetap saja dikunjungi warga, termasuk juga wisatawan yang sedang melancong ke kota berjuluk Serambi Mekah itu.
Sebagian besar jasa usaha itu menerima order asah bahan baku dari masyarakat. Untuk mengasah satu batu cincin diperlukan waktu satu hingga dua minggu baru bisa diselesaikan karena ordernya yang cukup banyak.

7 Januari 2015

Giok Asal Gayo Bersiap Go International


Aceh Tengah memiliki beragam macam sumber daya alam yang menjadikan pariwisata di takengon begitu dikenal oleh masyarakat luas, salah satunya yaitu Danau lut tawar. Akhir-akhir ini tanoh gayo dibooming-kan oleh penemuan batu yang saat ini menjadi fenomena dikalangan masyarakat.
Batu ini disebut batu giok karena memiliki warna dan tekstur yang baik digunakan dan dipajang. Seperti kita ketahui giok pertama kali dipakai oleh rakyat cina. Hal ini tidak lagi menjadi acuan oleh orang-orang tertentu. Karena seluruh masyarakat indonesia hingga kini telah menjadikan batu giok sebagai perhiasan yang digunakan baik laki-laki maupun perempuan.
Kategori giok yang berada di dataran tinggi gayo diantaranya giok lumut, giok solar dan indocrase lumut. Ini merupakan fenomena yang dapat meningkatkan PAD dari sumber daya alam yang berada di tanoh gayo dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melihat langsung pembuatan dari bermacam-macam giok
Batu giok terbaik di Aceh Tengah memiliki kualitas yang telah mendunia, dimana  batu-batu tersebut dinilai keras dan tergolong jenis batu mulia. Batu giok takengon memiliki kadar kekerasan 7,2 Skala Moh’s  batu giok minyak atau  air tebu diperoleh dari lumut, isaq.
Batu giok asal Gayo khususnya banyak dicari pecinta batu kelas dunia. Bahkan, batu giok ini penjualannya sudah sampai ke Singapura dan Jepang. Jenis batuan giok ini sering di dapat di sekitaran Isaq.
Beruntung saat ini pemerintah daerah mulai turun tangan agar keberadaan batu giok di Gayo lebih tertib dari segi penataan serta memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.

Sumber : http://tanohgayo.com/berita-giok-asal-gayo-bersiap-go-international.html

23 Desember 2013

Demam Batu Giok Resahkan Ulama


FENOMENA perburuan batu mulia dan demam giok yang kini melanda Aceh, ternyata tidak luput dari perhatian ulama. Sebagian ulama melihat fenomena ini sebagai hal yang biasa saja, namun sebagian lainnya justru mulai resah dan merasa khawatir. Pasalnya, ada yang meyakini bahwa batu-batu mulia tersebut mengandung berbagai ‘khasiat’, yang justru dikhawatirkan bisa merusak akidah.   Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Drs Tgk H Ghazali Mohd Syam, misalnya, mengkhawatirkan kegandrungan masyarakat muslim di Aceh dengan batu giok dan sejenisnya dapat mengarah kepada syirik. Apabila sudah dianggap batu tersebut memberi manfaat dan mudharat.
“Karena ada isu-isu dari beberapa yang mengatakan bahwa khasiat batu giok, dan sejenisnya itu dapat meringankan azab kubur, ringan di padang mahsyar, dan akan memperoleh kekayaan,” ujarnya menjawab Serambi, Kamis (29/1).
Sebab itu, kata Tgk Ghazali dalam hal ini MPU meminta agar masyarakat muslim di Aceh tidak terpengaruh dengan hal-hal tersebut sebab dapat mengarah ke perbuatan syirik. Namun, apabila digunakan sebagai hiasan dan jual beli maka tidak apa-apa.
Pembahasan tentang batu cincin juga sudah pernah dibahas dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/1) malam. Tema yang diangkat tentang “Dosa-dosa Besar dalam Islam” yang kemudian dibukukan dengan judul “Tinta Emas Wartawan Syariah,” bersama tema-tema lainnya. Buku tersebut ditulis oleh Wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur dan Arif Ramdan, serta Wartawan Analisa, Muhammad Saman.
 Memakai cincin
Seperti yang tertulis dalam buku itu, pada tahun tersebut memakai cincin dengan hiasan batu dari beragam jenis juga sedang menjadi trendi sejumlah kalangan. Tidak jarang, banyak dari pecinta batu cincin itu memakai cincin di ke sepuluh jarinya. Bahkan tak jarang pula banyak yang percaya ada kekuatan (azimat) di dalam batu-batu cincin di jarinya.
Menanggapi hal tersebut, alumnus Al Azhar Mesir, H Zul Anshary Lc yang mengisi pengajian tersebut mengatakan bahwa memakai cincin berhias batu yang sedang trend di Aceh akhir-akhir ini tidak bisa serta-merta dianggap sebagai perbuatan yang menjurus syirik. Banyak dari pecinta batu cincin itu memakainya hanya untuk hiasan.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/30/demam-batu-giok-resahkan-ulama
              : http://menatapaceh.com/images/2014/12/14/3220-pesona-giok-aceh/

Cincin Yellow Saphire Terjual Rp 585 Juta

* Dibeli Pemilik Tambang Emas di Padang
Cincin Yellow Saphire senilai Rp 675 juta di salah satu stan Atjeh Batee Festival milik Akmal terjual kepada seorang pemilik tambang emas serta pengusaha asal Padang, Sumatera Barat. Koleksi Pribadi
Festival Batu Aceh (Atjeh Batee Festival) resmi dibuka sejak Selasa (3/2) di Hotel Hermes Palace Banda Aceh. Masyarakat terlihat antusias, terlihat dari tingginya tingkat kunjungan ke lokasi festival.
Transaksi pun langsung terjadi. Bahkan salah satu peserta pameran berhasil menjual sebuah cincin dengan harga yang fantastis, senilai Rp 585 juta. Penjualan ini tercatat sebagai yang tertinggi pada hari pertama pelaksanaan festival batu kemarin.
Adalah Akmal salah satu peserta pameran yang berhasil menjual cincin tersebut. Cincin yang dia jual merupakan cincin batu Yellow Saphire asal Tanzania yang diikat dengan berlian 136 pcs, mas putih 25 gram dan 10,77 karat. Akmal membanderol cincinnya seharga Rp 675 juta.
Cukup mahal memang, tapi itu tidak menyurutkan niat pecinta batu untuk membelinya, salah satunya pengusaha pemilik tambang emas dan hotel di Padang Sumatera Barat, Dato Afis. Setelah tawar menawar Akmal akhirnya melepas cincin tersebut kepada Dato Alfis seharga Rp 585 juta.
“Cincin ini merupakan koleksi pribadi saya dari tahun 2004, bersertifikat Singapura. Sebelumnya pernah ditawar sama orang dari Aceh, minta ditukarkan dengan mobil Pajero keluaran tahun 2012, tetapi tidak saya lepas,” ungkapnya.
Selain Yellow Saphire, Akmal mengaku juga memiliki koleksi Blue Saphire senilai Rp 1,5 miliar. Namun khusus yang satu ini tidak ia pajang di lokasi festival. “Kalau ada yang berminat bisa menemui saya,” imbuhnya.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/02/05/cincin-yellow-saphire-terjual-rp-585-juta

Batu Cincin Terjual Capai Rp 1,2 Miliar

* Pada Pagelaran Atjeh Batee Festival
Batu cincin yellow saphire seharga Rp 425.000.000 terpajang pada stan Atjeh Batee Festival di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (4/2). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Festival Batu Aceh (Atjeh Batee Festival) yang berlangsung di Hermes Palace Hotel Banda Aceh nyaris tak pernah sepi. Sejak dibuka pukul 10.00, pengunjung terus saja berdatangan, bahkan sampai menjelang ditutup pukul 22.00 WIB.
Menurut keterangan pihak penyelenggara, rata-rata pengunjung yang datang setiap hari mencapai 1.000-an orang. Tidak heran kalau transaksi yang terjadi juga lumayan besar, yakni mencapai Rp 1,2 miliar. Angka itu merupakan angka transaksi yang terjadi selama tiga hari penyelenggaraan.
“Berdasarkan rekap data hari pertama, kedua, dan ketiga oleh panitia, total transaksi mencapai sekitar Rp 1,2 miliar lebih,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan, yang juga penyelenggara kegiatan, kepada Serambi, Kamis (5/2).
Kebanyakan pengunjung disebutkannya, membeli batu cincin pada rentang harga Rp 100 jutaan ke bawah. Batu yang paling banyak diminati di antaranya Idocrase atau Lumut Aceh dan Calcedony.
“Batu-batu akik juga lumayan banyak peminatnya, ini mungkin dilihat dari harganya yang relatif lebih murah dibandingkan batu lainnya,” ujar Safwan.
Pada Kamis kemarin juga digelar kontes batu. Penanggung jawab Atjeh Batee Festival, Octowandi, menyebutkan, untuk peserta kelas batu Idocrase, total jumlah peserta sebanyak 212 orang.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/02/06/batu-cincin-terjual-capai-rp-12-miliar

Ini Dia Giok Terbaik Dari Aceh Tengah

Kawasan Aceh Tengah dikenal sebagai salah satu sentra produsen kopi terbaik dunia. Kini, Negeri Antara ini semakin dikenal dunia dengan batu giok yang juga termasuk terbaik di jagad raya ini.
Asalnya, dua kampung, Lumut di Kecamatan Linge dan Gemboyah di Kecamatan Jagung Jeget yang telah menjadi tempat perburuan para pedagang dan pecinta batu untuk mendapatkan giok terbaik. Puluhan orang dari berbagai daerah hilir-mudik di dua kampung itu yang telah berubah menjadi pusat pasar batu.
Tetapi, sebelum tiba di pasar batu, para pemburu harus bertarung dengan ganasnya hutan Rimba Raya. Mereka harus berdiam beberapa hari untuk mendapatkan bongkahan di antara batu-batu besar pegunungan atau juga berendam dalam sungai selama berjam-jam. Keuletan dan ketabahan para pemburu giok tidak perlu diragukan lagi, tetapi kebersamaan harus tetap dijaga.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/11/09/ini-dia-giok-terbaik-dari-aceh-tengah

VIDEO Para Pencari Batu Giok

PERUT bumi Aceh ternyata menyimpan kekayaan yang melimpah. Selain minyak, gas, bijih besi dan logam mulia --yang memang sudah dieksploitasi besar-besaran-- yang paling diburu sekarang adalah batu mulia, Giok.
Batu alam bernilai tinggi dengan kualitas paling bagus itu ada di beberapa kawasan pegunungan Aceh Jaya dan kabupaten Nagan Raya.
Para pencari batu berasal dari berbagai kawasan di Aceh. Bahkan banyak juga yang berasal dari Sumatera Utara dan dari Pulau Jawa. Beberapa warga desa di sekitar lokasi tempat batu mulia itu berada, kini juga berbalik profesi:dari petani/pekebun menjadi pencari batu alam.
Bagaimana proses penambangan giok di hutan-hutan Aceh? simak tayangannya di sini klik Ekespedisi Mencari Batu Mulia di Aceh Jaya. https://www.youtube.com/watch?v=Ta9nrE7NJ0E#t=30

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/21/video-para-pencari-giok

Giok Aceh Nomor Dua Terbaik di Dunia

Ir Muhammad Usman (50), putra Aceh yang sudah 30 tahun menjadi kolektor batu permata, mengklaim bahwa kualitas batu giok Aceh menempati peringkat kedua di dunia, setelah Burma (Myanmar), disusul giok Kanada di tempat ketiga.
Ir Muhammad Usman
Hal itu dia ungkapkan kepada Serambi, Selasa (16/12) sore menanggapi laporan eksklusif harian ini berjudul “Aceh Demam Giok” yang dipublikasi kemarin.
Khusus giok jenis nefrit, menurutnya, kualias terbaik di dunia terdapat di Myanmar. “Tapi stoknya di Myanmar sudah habis,” ujar pria yang akrab disapa Abu Usman ini.
Giok nefrit terbaik kedua di dunia, kata Abu Usman, justru terdapat di Indonesia, tepatnya di Nagan Raya, Provinsi Aceh. Giok jenis ini pula yang membuahkan kemenangan bagi Abu Usman saat mengikuti Indonesian Gemstone Competition Idocrass pada Maret 2014 di Jakarta.
Nefrit peringkat ketiga, menurutnya, adalah batu giok yang terdapat di Kanada. Diakuinya, “demam” giok yang terjadi dalam enam bulan terakhir telah menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang di Aceh. Kegemaran mengoleksi batu permata tersebut merambah ke semua lini, tak terkecuali para pejabat di daerah.
Namun siapa sangka, dari sekian banyak jenis batu permata, tiga nama di antaranya dipopulerkan oleh Abu Usman, seperti jenis idocrass, solar, dan neon.
Menurutnya, batu-batu ini memiliki kelebihan dari lobster atau cahaya, warna, kilat kaca, bahkan tingkat kekerasannya yang sudah mencapai 7 pada skala Mohs.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/12/17/giok-aceh-nomor-dua-terbaik-di-dunia

Bisnis Giok akan Dikutip Retribus

Pemkab Aceh Barat akan mengutip retribusi pada pedagang batu giok di pelataran kompleks Mal Pasar Bina Usaha Meulaboh. Nilai tarif itu akan diatur dalam qanun yang tentunya juga berdasarkan ukuran lapak penjualan batu giok itu, seperti ukuran 1 x 1 meter, maka wajib membayar Rp 1.000 per hari.  
Kepala Unit Pelaksana Teknis Kegiatan (UPTD) Pasar Bina Usaha Meulaboh dari Dinas Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Barat, Darwin mengatakan sebelumnya para penjual giok itu berjualan di trotoar, sehingga mengganggu pengguna jalan. Karena itu, kini mereka sudah tertib berjualan di kompleks pelataran mal.
“Namun untuk tahap-tahap awal ini masih belum diambil retribusi, tetapi ke depan harus diambil sesuai qanun, apalagi lokasi tersebut butuh tenaga kebersihan. Rektribusi sesuai lapak yang dibuka seperti 1 x 1 meter hanya membayar Rp 1.000 per hari,” kata Darwin kepada Serambi kemarin.
Menurut Darwin, puluhan pedagang giok membuka lapak jualan di lokasi itu, ditambah banyaknya calon pembeli atau pembeli, sehingga tempat tersebut, terutama pada malam hari mencapai ribuan orang dan seperti pasar malam. “Ini sebuah peluang bisnis. Ke depan diharapkan akan dibuat sebuah lapak yang lebih tepat,” ujarnya.
Akan diadakan pameran
Secara terpisah, Kapolres Aceh Barat, AKBP Faisal Rivai mengatakan pihaknya akan mengadakan pameran batu giok berkerjasama sejumlah elemen di Aceh Barat di Mal Pasar Bina Usaha, Meulaboh. Pameran ini merupakan rangkaian memeriahkan peringatan ke-116 tahun gugur pahlawan nasional, Teuku Umar, 11 Februari 2015. “Kegiatan itu sedang kita finalkan,” kata Kapolres.
Warga Negara Australia saat melihat batu giok yang dijual di pelataran Mal Pasar Bina Usaha Meulaboh, Aceh Barat, Jumat (16/1).SERAMBI/RIZWAN 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2015/01/17/bisnis-giok-akan-dikutip-retribusi