LUBANG-LUBANG bekas galian dengan kedalaman yang bervariasi tampak bertebaran. Pecahan-pecahan batu besar berserakan di lereng bukit. Beberapa pohon sepertinya sengaja direbahkan untuk memudahkan truk keluar-masuk. Namun, siang itu, suasana di sekitar lokasi tersebut tampak sepi. Tak tampak aktivitas apa pun.
Padahal, beberapa hari sebelumnya, wilayah pegunungan Singgah Mata yang juga termasuk kawasan hutan lindung, ramai oleh hiruk-pikuk para pencari batu giok. Saat Serambi ‘menyusup’ ke kawasan ini, pekan lalu, para pencari batu memang sedang ‘tiarap’. Soalnya, beberapa hari sebelumnya Pemkab Nagan Raya menerjunkan tim untuk menyetop eksploitasi batu alam di sana.
Para pencari batu berasal dari berbagai kawasan di Aceh. Bahkan banyak juga yang berasal dari Sumatera Utara. Beberapa warga desa di sekitar Gunung Singgah Mata, kini juga berbalik profesi: Dari petani/pekebun menjadi pencari batu alam.
Untuk mencapai kawasan itu tak terlalu sulit. Dari pinggir Jalan Nasional Ladia Galaska, butuh waktu sekitar 20 menit mencapai kawasan tersebut dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer. Cuma cuaca pada siang hari sering bermasalah.
Sebagai kawasan hutan lindung yang masih menyisakan tutupan vegetasi yang cukup baik, hujan sering turun di siang hari. Saat bertandang ke sana pekan lalu, wartawan Serambi juga kesulitan memotret detail. Hujan lebat disertai kabut memaksa Serambi cepat kembali.
Menggiurkan
Hasil penelusuran Serambi, bisnis penambangan batu giok ini sangat menggiurkan. Satu bongkah batu seukuran genggaman tangan misalnya, bisa dihargai sampai Rp 800 ribu. Jika berhasil menurunkan satu truk, seperti dilakukan beberapa pihak selama ini dengan menjualnya ke Medan, maka bisa meraih rupiah sampai Rp 250 juta.
“Biasanya mereka menyelundupkan dengan truk pada malam hari. Sudah ada tauke yang menunggu di Medan,” kata seorang warga yang tinggal tak jauh dari kawasan hutan lindung tersebut.
Sedangkan penambang tradisional mengolah bongkahan-bongkahan batu kecil menjadi cincin, dengan kisaran harga antara Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per cincin. Jika belum sempat diolah pun, batu ini masih dihargai sampai Rp 100 ribu per kilogram.
Tak mudah menambang batu yang dinilai juga punya kekuatan magis ini. Menurut cerita seorang pekerja, batu alam yang berkualitas baik tertimbun jauh di dalam tanah. Kedalamannya tak kurang dari 30 meter. “Memang ada juga yang mudah diambil dan menyembul ke atas, namun jumlahnya sedikit,” kata dia.
Itu sebab, sebagian warga menggunakan becho untuk memecahkan batu-batu itu sebelum diangkat ke atas. Tentu saja butuh modal besar jika harus menggunakan alat berat. Sebagian warga lainnya mendapatkan batu bernilai itu dengan menyusuri sungai-sungai. Pencarian model begini tak butuh modal. Cukup mengekstrakan tenaga dan membuka mata lebar-lebar untuk memilah batu permata yang tersembunyi di balik jutaan kerikil.
Banyak yang terlibat
Penambangan batu alam di lokasi ini disebut-sebut dikontrol langsung oleh tauke yang merupakan warga turunan asal Medan, Sumatera Utara. Sang tauke juga disebut-sebut ikut dibekingi oleh aparat. Beberapa unit alat berat juga sering dikirim ke kawasan hutan lindung itu untuk mendukung penggalian batu alam tersebut. Itu sebabnya, banyak orang yang tidak yakin penambangan ilegal ini bisa dihentikan.
“Penambangan batu alam di kawasan hutan lindung tersebut memang sulit dikendalikan. Pasalnya, sebagian besar warga di kawasan ini telah menjadikan lahan tersebut sebagai mata pencaharian, karena pendapatan yang diperoleh sangat menjanjikan. Selain itu, orang-orang berpangkat juga terlibat,” kata seorang warga
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/04/07/memburu-giok-di-singgah-mata
Padahal, beberapa hari sebelumnya, wilayah pegunungan Singgah Mata yang juga termasuk kawasan hutan lindung, ramai oleh hiruk-pikuk para pencari batu giok. Saat Serambi ‘menyusup’ ke kawasan ini, pekan lalu, para pencari batu memang sedang ‘tiarap’. Soalnya, beberapa hari sebelumnya Pemkab Nagan Raya menerjunkan tim untuk menyetop eksploitasi batu alam di sana.
Para pencari batu berasal dari berbagai kawasan di Aceh. Bahkan banyak juga yang berasal dari Sumatera Utara. Beberapa warga desa di sekitar Gunung Singgah Mata, kini juga berbalik profesi: Dari petani/pekebun menjadi pencari batu alam.
Untuk mencapai kawasan itu tak terlalu sulit. Dari pinggir Jalan Nasional Ladia Galaska, butuh waktu sekitar 20 menit mencapai kawasan tersebut dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer. Cuma cuaca pada siang hari sering bermasalah.
Sebagai kawasan hutan lindung yang masih menyisakan tutupan vegetasi yang cukup baik, hujan sering turun di siang hari. Saat bertandang ke sana pekan lalu, wartawan Serambi juga kesulitan memotret detail. Hujan lebat disertai kabut memaksa Serambi cepat kembali.
Menggiurkan
Hasil penelusuran Serambi, bisnis penambangan batu giok ini sangat menggiurkan. Satu bongkah batu seukuran genggaman tangan misalnya, bisa dihargai sampai Rp 800 ribu. Jika berhasil menurunkan satu truk, seperti dilakukan beberapa pihak selama ini dengan menjualnya ke Medan, maka bisa meraih rupiah sampai Rp 250 juta.
“Biasanya mereka menyelundupkan dengan truk pada malam hari. Sudah ada tauke yang menunggu di Medan,” kata seorang warga yang tinggal tak jauh dari kawasan hutan lindung tersebut.
Sedangkan penambang tradisional mengolah bongkahan-bongkahan batu kecil menjadi cincin, dengan kisaran harga antara Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per cincin. Jika belum sempat diolah pun, batu ini masih dihargai sampai Rp 100 ribu per kilogram.
Tak mudah menambang batu yang dinilai juga punya kekuatan magis ini. Menurut cerita seorang pekerja, batu alam yang berkualitas baik tertimbun jauh di dalam tanah. Kedalamannya tak kurang dari 30 meter. “Memang ada juga yang mudah diambil dan menyembul ke atas, namun jumlahnya sedikit,” kata dia.
Itu sebab, sebagian warga menggunakan becho untuk memecahkan batu-batu itu sebelum diangkat ke atas. Tentu saja butuh modal besar jika harus menggunakan alat berat. Sebagian warga lainnya mendapatkan batu bernilai itu dengan menyusuri sungai-sungai. Pencarian model begini tak butuh modal. Cukup mengekstrakan tenaga dan membuka mata lebar-lebar untuk memilah batu permata yang tersembunyi di balik jutaan kerikil.
Banyak yang terlibat
Penambangan batu alam di lokasi ini disebut-sebut dikontrol langsung oleh tauke yang merupakan warga turunan asal Medan, Sumatera Utara. Sang tauke juga disebut-sebut ikut dibekingi oleh aparat. Beberapa unit alat berat juga sering dikirim ke kawasan hutan lindung itu untuk mendukung penggalian batu alam tersebut. Itu sebabnya, banyak orang yang tidak yakin penambangan ilegal ini bisa dihentikan.
“Penambangan batu alam di kawasan hutan lindung tersebut memang sulit dikendalikan. Pasalnya, sebagian besar warga di kawasan ini telah menjadikan lahan tersebut sebagai mata pencaharian, karena pendapatan yang diperoleh sangat menjanjikan. Selain itu, orang-orang berpangkat juga terlibat,” kata seorang warga
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/04/07/memburu-giok-di-singgah-mata

Tidak ada komentar:
Posting Komentar